JOURNEY

Malas atau ga ada waktu?

Yooww, it’s me. Kurang lebih 3 tahun yang lalu, aku mulai merumuskan sebuah plot. It’s silly, premisnya berkaitan dengan seseorang yang terjebak di dunia lukisan. Haha, aku masih cukup ingat semangatku yang menggebu waktu itu, hingga memutuskan itu akan menjadi sebuah novella. Ya novella, bukan karena alasan estetik atau apa, tapi lebih ke mawas dari karena semua tulisanku sebelumnya tidak pernah selesai.

Saat itu aku berpikir sudah siap untuk melakukannya. Belajar dari kesalahan sebelumnya, aku menulis plot yang simple, sebatas orientasi, klimaks, dan resolusi. Lalu segera menulis bab 1.

Nah bagian ini mulai seru, karena ternyata butuh waktu hampir semalaman untuk menulis 200 kata pertama. Salah siapa? Apakah aku yang nulisnya lambat? Mungkin saja sih, tapi gimana caranya berbenah?

Bodohnya aku saat itu, adalah ingin tulisanku langsung sempurna. Aku tulis satu kalimat, membuka kbbi, menyamakan rima, hapus, tulis, hapus lagi, sampai momentumnya hilang dan kesibukan datang.

Butuh bertahun tahun hingga aku akhirnya sadar untuk menurunkan ego, idealisme, dan entah apapun itu. Keajaiban datang ketika podcast Raditya Dika muncul di beranda, dari judul tidak ada kaitan apapun dengan tips menulis atau tips produktif. Namun ada satu bagian dimana dia mengatakan caranya untuk produktif adalah melakukan vertical creative process, atau singkatnya tulis dulu sejelek apapun itu, revisi nanti.

November lalu, aku mulai menerapkannya. Aku mulai menata ulang plotnya sehingga lebih membumi dan simple, dan mengubah genre yang semula fantasi menjadi slice of life. Genre ini muncul di kepala setelah menonton Reply 1988, dan menariknya mereka bisa menyulap potret kehidupan sehari hari tokohnya menjadi sebuah kisah yang hangat.

So, aku mulai menulis. Dan mengejutkannya, hal ini cukup berhasil meskipun belum maksimal.

Hari ini, Kamis, 10 April 2024, aku sudah mencapai 16.000 kata dari sekitar 4 bulan menulis. Tentu itu bukan catatan yang baik dari sisi produktivitas, but it’s better than jika ditarik kebelakang lagi, 1.000 kata dalam 2.5 tahun. Aku menentukan target 500 kata per hari dan berusaha rutin, dan nyatanya itu masih bukan hal yg mudah.

Lalu Atomic Habits-nya James Clear memberikanku pemahaman baru, yaitu….the 2 minutes rules, jeng jeng. Disana dikatakan, seberapa padatnya kesibukan, cobalah untuk meniatkan diri untuk melakukannya selama 2 menit, setelah itu berhentilah. Jika dilakukan secara rutin maka ini akan menjadi kebiasaan karena otak akan mengasosiasikan kegiatan ini sebagai sesuatu yang mudah, karena hanya 2 menit tadi.

Aku mengadopsinya dengan aturan yang berbeda. Sepadat apapun kegiatan dalam satu hari, harus ada waktu untuk menulis meskipun hanya 50 kata. Tentu, bukan cara tercepat untuk menyelesaikan projek, tapi menjadi cara yang cukup efektif untuk membentuk kebiasaan – at least for me ya kan.

Dan aku menemukan sesuatu yang unik dari cara ini, setelah menulis 50 kata, aku mulai melihat waktu. Menariknya, ternyata kegiatanku memang tidak sesibuk itu, wkwkw. Bisa lah lanjut 10 atau 20 menit lagi, bahkan kadang kadang sampe 1.000 kata.

So, balik lagi, kita mungkin berpikir ga punya waktu untuk mengerjakan ini itu hanya karena merasa berat untuk memulainya. Jika udah mulai, toh lancar lancar aja kan?

Sekarang aku sudah hampir sampai di pertengahan target, 35.000 kata. Dan mungkin untuk mengakselerasinya, mulai ku tetapkan target. Kubulatkan tekat untuk menyelesaikan ini dalam waktu 20 hari. Entah ini akan berhasil atau tidak, aku akan menuliskan perjalanannya setiap harinya di sini.

Dan sebagai penutup, ada sebuah quotes menarik yang uniknya keluar dari mulut anak 8 tahun, “jangan menunggu sempurna untuk mulai, tapi mulailah untuk menjadi sempurna.”

~the end~

topik
laen.