JOURNEY

Dongeng Capsaicin

“Apakah cabe itu racun?
Kalau bukan, kenapa kadang kita diare abis makan pedes?”

Kalau kita cari kata kunci “capsaicin diarrhea” di Google, kalian bakal nemu penjelasan panjang lebar soal fakta medisnya. Tapi berhubung aku ga dokter, I will tell you a fun story about capsaicin, si penyulut alarm palsu.

Ya, kuah seblak yang dicabein sudah barang pasti mengandung capsaicin, zat alami yang dimiliki cabe, sifatnya kayak minyak dan ga bisa bercampur air. Makanya kalian bakal tetep kepedesan padahal udah minum.

Nah, ketika kuah seblak masuk ke lambung, zat capsaicin itu akan menempel di dinding lambung atau usus, menyebabkan sensasi panas yang segera menyulut alarm kebakaran. Otak yang gelagapan menanggapi informasi itu segera memerintahkan tubuh untuk melakukan mitigasi bencana. Usus menyempit, air dikerahkan ke usus demi memadamkan api itu. Padahal di sana ga ada kebakaran beneran, it’s called an overreaction.

But let me tell you a silly question, tidakkah itu semua bisa dicegah dengan bilang, 

“Hi otak, kasih tau usus, ini capsaicin ga bahaya kok, gausah lebai ya…”

“Syap santuy,” jawab otak. 

Lalu masalah beres, kita bisa makan pedes tanpa diare.

Pertanyaannya, emang kita bisa komunikasi sama organ tubuh?
Sayangnya semua organ dalam tubuh kita bekerja secara otonom tanpa harus diperintah. Ajaib kan? Selama ini kita hidup dalam keajaiban biologis. Lalu pertanyaan selanjutnya, apakah organ itu bekerja untuk kita? Apakah kita hanya take for granted?

Kita bahkan ga tau loh mereka lagi ngapain sekarang? Makan cabe aja bisa micu sistem mitigasi bencana darurat tanpa perintah sadar kita. Okey, mungkin capsaicin kurang serem kalau kalian bayangin. Jadi gimana kalo aku bilang ternyata organ kita itu super bising, suara jantung mompa darah, suara katup jantung yang buka nutup, dan desingan kapiler yang dialiri darah dengan kecepatan yang tidak bisa dibayangkan. Lalu gimana dengan peperangan antara imun yang ngelewan sel kita sendiri yang bermutasi dan berpotensi menjadi kanker? Kedengeran heroik kan?

Kalau organ bergerak otonom, lalu sebenarnya apa tugas si “aku” ini? Apakah “aku” itu entitas yang terpisah dari organ? 

Kalau “aku” didefinisikan sebagai badan eksternal yang punya kontrol sadar, mungkin tugas “aku” adalah hal yang berhubungan dengan hal eksternal, kayak nyari makan, sosialisasi, atau berkembang biak.

Tapi tahu tahu yang lebih menyeramkan? bukankah dorongan mencari makan itu karena tubuh protes karena ga ada tenaga buat diolah? kita berak karena sampah sudah penuh di usus? dan tidur saat sakit.

Mungkinkah kita cuma penumpang yang kebetulan bisa mikir?

topik
laen.