JOURNAL

Standarisasi Kompulsif

Dalam bermasyarakat, manusia memang selalu berenang dalam genangan dangkal standarisasi. Genangan yang selalu menyekat dan menggiring masyarakat ke dalam beberapa kisi. Hal itu terjadi terus menerus, dari jaman ke jaman, berevolusi menjadi  hal yang lumrah di kehidupan sehari-hari. Ada banyak standarisasi terus bermunculan dan manusia disarankan dapat beradaptasi dengannya.

Banyak hal baik yang timbul dari proses sosial ini (aku malas menyebutkannya), tetapi berkiblat dari peribahasa: Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Mari kita menengok ke dampak negatif yang kurasa erat hubungannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, standarisasi pintar atau bodoh. Manusia itu kompleks, seorang individu bahkan bisa terlihat pintar dan bodoh dalam waktu yang bersamaan. Bagaimana bisa? Itu tergantung dari kelompok mana yang menilai individu tersebut. Seorang guru matematika tentu akan kesal dengan muridnya yang susahnya minta ampun untuk diajari. Tetapi di lain sisi, guru olahraga selalu memuji murid yang sama karena pintar dalam berolahraga. Menurut Howard Gardner, psikolog dari Universitas Harvard yang mencetuskan teori Multiple Intelligences, manusia memiliki 9 kecerdasan dengan tingkatan yang berbeda. Ada kecerdasan dalam berlogika, linguistik, kinestetik, emosional, musikal, spiritual, spasial, naturalis, dan intrapersonal (Penjelasan lebih jauh bisa dilihat di sini). Menarik kesimpulan dari teori ini, memiliki bakat di bidang matematika ataupun bahasa saja belum bisa merepresentasikan kecerdasan seseorang. 

Yang kedua, Aku lakukan kamu harus lakukan (tyranny of the minority). Sebuah kondisi dimana seorang individu memaksakan standar yang diciptakannya sendiri kepada individu lain. Indikasinya adalah karena individu tersebut merasa standarnya lebih baik. Implikasinya adalah, individu itu sering melukai perasaan seseorang tanpa dia sadari.

Sedari dulu, manusia memang sudah terbiasa menilai individu lain berdasarkan perspektif mereka sendiri. Manusia cenderung membagi dunia menjadi aku dan mereka. Apakah hal ini bisa aku anggap sebagai sebuah kesalahan? Tetapi jika begitu, aku akan masuk paradoks yang sama dengan tyranny of the minority. Semua orang punya pendapatnya masing-masing bukan?

topik
laen.