JOURNAL
Kenapa Manusia Serapuh Itu?
- Rendy Setiawan
- September 13, 2022
- 1:27 am
Sebagai seorang Sapiens atau (dalam tanda kutip) manusia modern, kita mungkin mendapat berbagai keuntungan ―katanya. Meskipun volume otak kita lebih kecil, sapiens bisa dikatakan lebih cerdas daripada orang-orang Neanderthal ―yang katanya menghilang karena keganasan kaum kita. Kita mungkin lebih cerdas, lebih efisien, dan lebih bermoral ―yang lagi-lagi katanya. Memang terdengar seperti sebuah untaian dongeng yang dibuat oleh sejarawan. Namun tidak bisa dipungkiri, otak manusia memang berkembang seiring dengan zaman. Perkembangan yang lambat ini sering disebut dengan evolusi.
Sebagai pelaku peran di dunia, kita mungkin menyadari bahwa tidak ada sesuatu yang datang secara cuma-cuma. Selalu saja ada yang harus dikorbankan. Misalnya, meskipun volumenya menyusut, otak manusia modern dengan berat hanya 3% dari total berat badan kita dapat menghabiskan 20% energi tubuh ―yang tentu saja berasal dari makanan yang susah payah kita kumpulkan. Kecerdasan yang kita dapatkan harus dibayar dengan makan tiga kali sehari. Kita cenderung lebih mudah lapar daripada manusia purba.
Tidak hanya itu, otak kita pun menjadi lebih manja. Kompleksitas tersebut menghasilkan beragam perasaan yang bercabang-cabang. Kita sekarang berhadapan dengan penyakit baru yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh nenek moyang kita sebelumnya: penyakit mental.
Mungkin kita sudah lama berada di dunia yang penuh rasa aman. Apakah itu berpengaruh? Kita bahkan tidak perlu mengintip terlalu jauh ke belakang untuk mencari bukti. Nenek buyut kita yang pernah menjadi korban kolonialisme Belanda mungkin memiliki badan tiga kali lipat lebih kuat daripada kita. Penyakit pun seolah enggan hinggap di tubuh mereka.
Mampukah kita bertahan dengan kerapuhan ini untuk beberapa ratus tahun ke depan. Mungkin dunia memang perlu merasakan kekacauan sekali lagi untuk menguatkan mental dan pikiran kita. Agar manusia bisa mempertahankan spesiesnya lebih lama lagi.
Alam semesta mungkin punya caranya sendiri untuk menyeleksi seseorang yang hinggap di wajahnya. Perang dunia dan wabah penyakit mungkin menjadi salah satu cara alam semesta untuk menyeimbangkan kita. Benarkah begitu?
topik
laen.