JOURNEY

AI & the next bubble

Sebagian besar adalah opini dan catatan pribadi berdasarkan hipotesis: Apakah AI akan Bubble?

5 tahun lalu, mungkin sebagian dari kita tidak pernah memikirkan sebuah algoritma rumit yang merubah landscape semua industri. Namun, layaknya pasukan serdadu yang bergerak di malam hari, sebuah perusahaan, OpenAI, meluncurkan GPT-3 yang hanya bisa diakses terbatas melalui API. Saat itu, mungkin fajar baru menyingsing, hanya orang-orang tertentu yang bangun dan sadar akan potensi dan ancamannya. 

Lalu fast forward di akhir tahun 2022, akhirnya mereka, OpenAI meluncurkan ChatGPT ke publik, sebuah keputusan yang pada akhirnya mendemokratisasi AI untuk digunakan secara masal. Mengenalkan teknologi yang sudah lama diinkubasi di internal perusahaan.

Setelah itu, produk AI generative melebar, dari yang semula text based lalu melebar ke image, dan pada akhirnya video, dan seperti belum menyentuh puncaknya, banyak perusahaan kini berlomba-lomba mengotomatisasi banyak skill yang kita miliki. And, I think there’s no turning back.

Bulan lalu, aku pindah dari Domainesia ke Hostinger, dan mencoba tools Website Builder mereka yang based on AI. Kita bisa bikin satu page yang editable, dengan prompt dan gambar referensi dari website yang kita sukai. Kurang dari semenit, satu page selesai. Kalau font-nya jelek? Susunan kolomnya salah? Atau ganti warna? Just ask and they grant it. Yes, we’re Aladdin with a Genie subscription.

Veo 3.1 dan Nano Banana is dangerously powerful, karena kali ini perusahaan seperti Google pada akhirnya turun untuk demokratisasi API yang segera digunakan oleh banyak perusahaan lain. Bahkan Adobe turut menyertakannya di lini produknya.

Website stock footage kayak Envato dan Freepik mengubah interface webnya. I got email from them, mereka bilang mau menghentikan service plugin karena ingin mengalihkan resource dan mengubah arah perusahaan.

Adobe in the other hand struggles, an old giant company dengan birokrasi yang rumit sedang mencoba mengejar inovasi perusahaan kecil yang lincah. Mereka pada akhirnya mulai mengaplikasikan tools AI ke lini video editing-nya.

Elevenlabs meluncurkan Eleven v3 (Alpha) yang sangat expressive dan controllable. Bahkan mereka telah meluncurkan API untuk call customer agent AI. Kebayang ga si kita call CS yang ngangkat AI? Serem njr.

Banyak tools AI mulai bermunculan, rupa-rupa warnanya, dan dengan gesit berinovasi.

MEMANFAATKANNYA

Di tengah euforia itu, sebagian orang mulai berlomba untuk memanfaatkannya. Dan jujur gess, demokratisasi ini mungkin menyulitkan sebagian besar orang, tetapi menyimpan peluang bagi banyak orang pula. Cukup banyak cara buat memonetisasi banjirnya produk AI. Karena market masih kebanjiran supply dari produk AI, dan demand atau usernya mungkin belum benar-benar massive, sehingga mereka masih menyediakan harga yang kompetitif. 

Di Instagram Reels, TikTok, atau bahkan YouTube, the content is bloated by AI. Lucunya, audiobook yang dulu cukup langka, kini menjamur di YouTube. Meskipun efek sampingnya, muncul buku-buku tanpa author yang disajikan dalam audiobook berdurasi satu jam. Aku gak akan bicara banyak soal monetisasi ini.

Pada akhirnya kita kembali ke masalah etika. Karena aku ga tahu gimana mereka train data, aku hanya bisa berasumsi mereka mengambil beberapa karya orang untuk menyempurnakan produknya. Meskipun karya-karya klasik yang sudah berumur 100 tahun sejak orangnya meninggal sudah menjadi public domain.

And to be honest guys, I can’t say a lot about this, but for sure, teknologi ini akan terus melaju meninggalkan kita, there’s no turn back. Kecil ga sih kemungkinan tiba-tiba besok semua AI hilang?

TETAPI SAMPAI KAPAN?

Kita tarik ke belakang, Dot.com bubble, real estate bubble, startup bubble, and is AI going to be the next?

AI membutuhkan resources dan infrastructure yang mahal, biaya operasional AI di big Silicon Valley companies terus naik tiap kuartalnya. Apakah mereka akan bubble sometime soon?

AI bubble bukan berarti perusahaan-perusahaan itu akan hilang, tetapi pasar akan menyempit, menyisakan pemain-pemain yang mampu bertahan. Tapi yang lebih penting adalah, jika teknologi dan pasarnya menjadi bubble, apakah konten AI yang sekarang membanjiri pasar juga akan bubble? Jawabannya kompleks, tetapi jika kembali ke teori supply dan demand, maka ya, konten AI itu sendiri juga akan mengalami bubble.

Salah satu celah yang saat ini bisa dimanfaatkan adalah fakta bahwa AI tidak memiliki natural feelings. Empati sintetis yang mereka miliki mungkin tidak bisa menciptakan karya yang bernilai sentimental (at least masih butuh waktu lama lah sampai ini terjadi).

Ketika orang-orang mulai jenuh dengan banyaknya supply konten AI, mereka akan mulai mencari sesuatu yang organik yang sayangnya mungkin di masa itu sudah sulit ditemukan. Dan jika demand bertambah dan supply sedikit, maka konten-konten dengan sentuhan manusia akan jadi sesuatu yang lebih valuable.

Jadi misi yang paling masuk akal saat ini adalah mulai expand skill ke anything that needs soul to work on it. Because the soul adalah satu dari sekian hal yang ga bisa dikalahin sama AI.

Mungkin kita bisa selamat selama AI belum bisa mereplika soul that humans have. Let’s see where the future takes us. Cheers.

topik
laen.