JOURNEY
Bayem itu Ijo Anjayy
- Rendy Setiawan
- September 18, 2025
- 3:03 pm
Okay, sounds like something not good to talk about, a bit cheesy, but I think it’s important.
Hidup bagaikan magnet masalah bukan? Uh oh, tapi hidup juga magnet kesenangan, haha.
Karena, hmm…mungkin sedikit permainan kata, “bahagia ga akan sebegitu berarti tanpa momen sedih, dan kesedihan ga akan sesedih itu tanpa kebahagiaan sebelumnya.”
Wkwkkw, semisal, kita dapet bonus setelah sekian bulan bekerja, dan kita super happy. Lalu, kenapa kita happy? Karena kita compare dengan momen sedih terdahulu, kesel kerja keras ga dapet bonus, tersiksa harus makan tempe orek setiap hari, dsb. Sehingga momen dapat bonus jadi lebih membahagiakan.
Tapi, aku ga pengen bahas lebih dalam contoh yang udah jelas kayak gitu. Let’s talk about something more abstract.
Kita main imajinasi yaa, bayangin…
Di usia senja nanti, …bayangin aja yaa…. Kalian sendirian di rumah, hari-hari di rumah itu sepi, yang kalian harapin apa? Anak atau cucu kalian datang bukan?
Lalu tibalah hari libur, anak-anak dan cucu kalian berkumpul. Kalian akan senang bukan, seolah ingin menggenggam momen itu selamanya, seolah momen kebersamaan itu ga akan berakhir.
Tetapi tentu, keesokan harinya anak-anak kalian pulang, dan kalian sendirian, lagi. Apa yang kalian rasakan? Di hari pertama, kalian akan sangat merasakan kesepian itu. Kenapa? Karena kalian baru saja merasakan kebahagiaan yang kemudian hilang dalam sekejap. Ingatan bahagia yang kemarin ingin kalian genggam justru menjadi bumerang.
Lalu di hari-hari berikutnya, hari-hari kalian akan berjalan seperti biasa.
Jika begitu, waktu anak cucu kalian berkumpul kemarin, bukankah itu rasa senang sekaligus kesedihan? Senang karena semua berkumpul, sedih karena tahu besok kalian sendirian lagi.
Lalu apa kesimpulannya?
Ga tau ya jujur, perasaan itu abstrak ya.
Tapi, Let’s take a controversial thought. Mungkin ini bakal nge counter perspektif yang kita anggep bener soal sebuah masalah, semoga ya.
Semua momen itu netral ya. Sama kayak dunia ini, netral, siapa sih yang lihat warna daun bayem itu ijo? Kan itu gara-gara klorofil yang nyerap semua warna kecuali ijo, jadinya yang kalian tangkep cuma ijo. Perspektif kalian lihat itu ijo, beda dengan perspektif kodok, mungkin daun itu ungu ya, beda lagi sama ayam? Atau kucing?
Momen juga kayak gitu, misalnya kalian kebetulan lewat di pemakaman, orang-orang pada nangis tuh, apa yang kalian rasain? Mungkin kalian akan terbawa kesedihan, mungkin juga engga. Tapi bagi mereka yang ngalamin, itu momen yang sedih.
But still, aku ga akan narik kesimpulan. Karena mungkin bisa banyak kesimpulannya, mungkin juga bisa “ga ada sama sekali”
topik
laen.