JOURNAL

Memanusiakan Manusia

Semua tulisan di bawah ini adalah hipotesis dari sebuah asumsi. Aku tidak mengklaim tulisan ini valid atau autentik dan aku terbuka akan kritik.

Aku ingin mengawali tulisan ini dengan sebuah asumsi:

“Manusia belum bisa memanusiakan manusia jika dia belum memanusiakan dirinya”

Beberapa tahun terakhir ini, umat manusia menumbuhkan monster bernama ego dan nafsu sebagai kompensasi dari kecerdasan (atau paling tidak kemudahan) yang mereka rasakan. Hal ini membuat mereka lebih defensive dan agresive di waktu yang bersamaan. Mereka mati-matian melindungi privasi mereka tetapi tidak peduli akan privasi orang lain. Beberapa orang mulai tidak peduli lagi dengan apa yang keluar dari mulutnya. Mereka tidak peduli dengan perasaan orang dengan dalih prinsip yang dipegangnya. Beberapa orang yang lain haus mengejar impiannya meskipun harus memenggal kepala saingannya. Manusia semakin berapi-api, tetapi mereka lupa cara menjinakkan api tersebut. Bagaimana mengendalikannya sehingga menjadi entitas yang menghangatkan, bukan menghanguskan.

Ada ungkapan kontradiktif untuk mengendalikan ego dan nafsu, yaitu mengakui dan berdamai dengan mereka. Konon mengenali mereka dengan baik bisa menjadi salah satu usaha preventif. Manusia mungkin bisa berteman dengan mereka sembari mencari tahu kapan dan kenapa mereka muncul. Karena selayaknya api, mereka bisa membantu manusia untuk bertahan hidup. Karena dengan atau tanpa kita sadari, manusia sering kehilangan kontrol atas dirinya. Lalu jika begitu, apakah manusia tetap dianggap manusia seutuhnya ketika kontrol sudah tidak lagi di tangannya?

topik
laen.