JOURNAL

Meracau Tentang Waktu

Kali ini, aku hanya akan meracau mengenai apa yang ada di benakku. Hari ini, 23 Mei 2023 pukul 00:30 WIB, aku masih terbangun, dengan hati yang janggal seperti biasa, perasaan tentang hal yang masih abu. Tentang bagaimana hari ini, apakah aku menyelesaikannya dengan baik? Lalu bagaimana dengan hari esok, apakah akan berjalan lancar? Lalu bagaimana dengan masa depan? Perasaan itu menggumpal meskipun aku memegang sebuah nasehat: Masa depan itu dipersiapkan boleh, tetapi dipikirkan jangan.

 

Pernahkah kalian berpikir kalau waktu itu sangat cepat, spontan, dan kejam. Saking kejamnya waktu bisa menelantarkan kita, menyisakan rasa sesal yang tidak ada gunanya. Membicarakan waktu, kurasa aku mengingat pernah berjanji akan menyelesaikan ceritaku 5 tahun yang lalu. Siang berganti malam untuk kesekian ribu kalinya dan tidak ada yang kutulis.

 

Namun, seiring berjalannya waktu pula, aku jadi memahaminya. Bukan waktu yang kejam terhadapku, tetapi aku yang kejam padanya. Jika menengok ke belakang, akulah yang menyia-nyiakan mereka, akulah yang terlalu sentimentil terhadap suatu hal, aku terlalu memikirkan detail kecil yang tak kasat mata. Namun waktu masih berbaik hati mengajariku makna yang baru-baru ini kujadikan pegangan. “Hargailah waktu, hiduplah untuk dirimu dan orang terdekatmu, temuilah mereka selagi bisa, jangan khawatirkan hari esok, dan berbahagialah”

 

Ada banyak pertanyaan masuk ke telingaku, tentang hal yang tidak bisa mereka pahami. Tetapi, bukankah manusia punya versi benarnya masing-masing. Waktu telah mengajariku untuk memahami perbedaan pandangan, menghargai tindakan mereka. Waktu pula yang mengajariku untuk memandang suatu hal dari dua kacamata. Mungkin, aku tidak akan pernah bisa mengambil kesimpulan, yang kutahu adalah dua jawaban yang masing-masing punya dua sisi: Positif dan negatif. Tentu, aku bukan orang yang pintar dalam menggunakan kacamata itu. 

 

Namun, waktu pula yang mengingatkanku, bahwa aku bukan siapa-siapa. Sekarang, aku hanya ingin memanfaatkan waktu. Aku ingin menggenggamnya erat sehingga bisa menikmati jalannya yang lambat. Kusudahi dulu ya racauanku malam ini, aku tidak kesal jika kalian tidak sependapat, kuhargai sepenuhnya pendapat kalian.

topik
laen.