JOURNAL
Usaha & Hasil
- Rendy Setiawan
- January 1, 2024
- 12:07 am
Hi, setelah di beberapa artikel aku menggunakan pendekatan formal, mungkin kali ini berbeda. Aku akan menuliskannya sebagai sebuah diary akhir tahun (yang kuharap tidak ada yang membaca ini). Sekali lagi, aku tidak mengklaim tulisan ini valid dan aku terbuka akan kritik.
Cukup banyak cerita di tahun ini, salah satu yang ingin aku bahas adalah:
Benarkah usaha tidak akan mengkhianati hasil?
Menurutku, usaha dan hasil ada di dua kutub yang berbeda. Seorang nelayan di Sydney bisa saja merencanakan perjalanan ke pelabuhan di Cordova, Alaska (kita hiraukan SPB dan berbagai macam regulasi lain) menggunakan perahu penangkap ikan berukuran sedang. Sekuat apapun mereka berusaha, nelayan itu tidak punya kendali atas keselamatan mereka. Badai dan hempasan ombak di samudra Pasifik bisa saja menghempaskan mereka di lautan lepas. Sekeras apapun mereka berusaha memutar kemudi, atau menguras air dari sekoci yang bocor. Ada perjalanan panjang untuk mencapai hasil yang ingin mereka capai. Halangannya bisa jadi berat.
Anggaplah jika nelayan itu memeriksa ramalan cuaca terlebih dahulu, kemudian merencanakan beberapa transit, dan menginvestasikan sebagian uangnya untuk kapal yang lebih besar. Tentunya tantangan yang akan dihadapinya akan lebih bisa dikontrol bukan?
Perbandingan di atas menunjukan bahkan ada faktor x (selain usaha) untuk mendapatkan sebuah hasil. Selain berusaha keras, nelayan itu butuh pengetahuan untuk membaca cuaca dan merencanakan transit. Tidak cukup itu, dia juga harus punya cukup uang untuk kapal yang layak. Ahh, satu yang tertinggal adalah keberuntungan.
Maka jawaban menurutku tidak sesimpel benar atau salah. Ungkapan itu mengajarkan kita untuk bekerja keras, yang mana itu bagus. Tetapi bekerja keras tanpa strategi seperti halnya berlari di atas treadmill, kita tidak akan sampai kemana pun. Kecuali jika faktor keberuntungan tiba-tiba menghampiri.
Namun jika diperbolehkan untuk melebar ke masalah sosial, hidup memang tidak selalu tentang keadilan. Seorang anak belum tentu bisa mendapatkan kesempatan yang sama dalam hal pemenuhan gizi, akses pendidikan, dan kelak dalam hal pekerjaan. Dan tragisnya anak-anak tersebut harus menjalani takdir yang telah ditentukan kepada mereka.
Mengutip dari CDC, nutrisi yang diberikan pada 2 tahun pertama seorang anak sangat mempengaruhi perkembangan otak dan tubuhnya. Jika mengacu pada kutipan itu, nutrisi yang diberikan pada anak sampai usia 2 tahun akan mempengaruhi kemampuan otak kelak ketika mereka dewasa. Sedangkan jika mengutip dari Unicef, pada tahun 2018, hampir 3 dari 10 anak di bawah usia 5 tahun mengalami stunting dan 1 dari 10 anak mengalami wasting. Bukankah tidak adil bagi mereka? Kelak usaha mereka akan berkali-kali lipat lebih keras daripada anak-anak beruntung yang gizinya terpenuhi.
topik
laen.